Ajeng tertunduk lesu, wajahnya menyiratkan duka yang teramat dalam. Aryo meninggalkannya untuk kesekian kalinya, setelah pertengkaran mereka yang tidak pernah jelas ujung pangkalnya. Ajeng harus selalu menerima semua sikap Aryo yang tdk pernah bisa menerima alasan apapun yang diutarakannya. Bukankah seharusnya mereka bisa duduk berdampingan membahas dan mendiskusikannya? Menegur dan saling memaafkan atas dasar cinta? Mereka bersatupun karena cinta, mengapa semua hal tidak bisa diselesaikan atas dasar itu?
Diusapnya air mata yang terus mengalir tanpa mampu dihentikannya, kesalahan yang dibuatnya kali ini benar-benar tak termaafkan, segala permohonan maaf dan penjelasaannya tidak ada yang bisa diterima. Aryo benar-benar tersinggung meskipun Ajeng berulang mengingatkan akan rasa sayang dan cinta mereka, tetap tidak bisa meluluhkannya. Mungkinkah sayang dan cinta yang Aryo ucapkan padanya hanya seolah-olah hingga bisa hilang dalam sekejap? Ajeng kembali terisak dalam diam.
Matanya menerawang langit senja yang indah dengan semburat jingga, betapa senangnya senja yang boleh memilih warna terindah yang pastinya tertuliskan cintaNya. Ajeng terpekur menunduk dan tidak habis pikir dengan semua kejadian hari ini. Apakah Aryo tidak pernah bisa merasakan betapa besar sayang dan cintanya meski dalam diam. Bukankah perasaan itu seharusnya tidak hanya diucapkan tetapi ditunjukkan dengan sikap dan pemberian seperti yang telah dilakukannya hari ini. Bahkan Aryo pernah memberikan bingkisan yang sama tapi Ajeng tak pernah membuatnya jadi sebuah masalah seperti hari ini.
Mata Ajeng semakin sembab, tangisnya tak berhenti menyesali semua yang dilakukannya hari ini. Semula ingin menunjukkan rasa sayang dan cinta tetapi jika tahu akhirnya akan begini, tentu tidak akan dilakukannya. Isak tangis Ajeng semakin dalam, pedih di dalam hati semakin menyesakkan dada. Ucapan Aryo terus terngiang, ingin mengakhiri semuanya. Mengapa semudah itu Aryo meninggalkannya? Apakah kesalahannya begitu tak termaafkan?
Lalu apa yang sekarang harus dilakukannya? Mengakhiri hidupnya? Jadi untuk apa lagi dia menjalani sendiri hari-hari yang seharusnya bisa dilalui bersama? Ajeng berdiri terpaku menatap kosong ke langit senja yang mulai merengkuh malam, tak dipedulikannya lagi air mata yang membasahi pipi dan rambut yang mulai kusut tersapu angin. Matanya nanar memandang gelombang air laut yang menyentuh tepian karang. Ajeng ingin ikut gelombang laut yang datang dan pergi membawa rindu pantai yang tak pernah hilang. Sebuah bentuk kesetiaan gelombang pada pantai.
Pandangannya semakin kabur tertutup air mata yang mengarai, isaknyapun semakin keras, tubuhnya gemetar menahan kesedihan yang amat sangat. Aryo sudah meninggalkannya dan dia memang pantas tuk ditinggalkan karena kesalahan itu tak termaafkan. Untuk apa lagi dia menunggu di sini, Aryo tidak akan pernah datang menjemputnya, mungkin saat ini Aryo sedang bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya. Ajeng memang bukan satu-satunya perempuan terkasih di hati Aryo, dia tidak akan pernah mendapatkan tempat sedikitpun di relung hatinya.
Ajeng bersimpuh, kakinya tak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Kesedihan itu semakin dalam dan merasuki seluruh jiwanya. Tubuhnyapun lunglai hingga jatuh menyentuh tanah sementara matanya menatap pekat malam yang biasanya penuh kerlip bintang. Jiwanya meronta memohon bulan tuk merengkuhnya dan melebur dalam malam kelam. Isaknya semakin lama semakin pelan dalam senyap dan akhirnya menghilang dala sepi. Tubuhnya sudah tak bergeming lagi, nafasnya semakin lambat tanpa isakan. Jiwanya telah menyatu dalam malam, menemani bulan yang selalu setia pada malam.